

Indonesia sedang berada di momen penting dalam perkembangan pasar modal. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah investor di pasar modal Tanah Air mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Per 19 Desember 2025, jumlah investor telah menembus lebih dari 20 juta orang berdasarkan Single Investor Identification (SID) yang tercatat secara resmi. Ini merupakan kenaikan sekitar 35% dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini mencerminkan perubahan besar dalam pola keuangan masyarakat Indonesia, terutama dari sisi literasi finansial dan pilihan investasi jangka panjang.
Tapi di balik angka besar itu ada banyak hal yang belum orang pahami. Bagaimana investor pemula sebaiknya memulai? Apa yang perlu dipahami sebelum menaruh uang di pasar modal? Kita bahas langkah demi langkah dengan konteks nyata.
Kenapa jumlah investor bisa melonjak?
Ada dua faktor utama di balik lonjakan ini.
Pertama, akses teknologi yang makin mudah. Kamu bisa buka rekening saham, reksa dana, atau instrumen pasar modal lain hanya dari ponsel dalam hitungan menit. Ini membuat investasi tidak lagi eksklusif hanya untuk orang kaya atau yang sering ke kantor sekuritas.
Kedua, ada kampanye edukasi besar-besaran dari OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mendorong literasi keuangan di masyarakat. Walaupun tingkat literasi pasar modal secara umum masih belum tinggi, perhatian terhadap topik investasi tumbuh dengan cepat.
Siapa yang berinvestasi?
Angka investor di Indonesia kini didominasi oleh kelompok usia muda. Menurut data, lebih dari setengah investor tercatat berasal dari generasi di bawah 30 tahun. Ini menunjukkan perubahan perilaku di mana kaum muda mulai melihat investasi sebagai bagian dari rencana keuangan pribadi, bukan hanya menabung di bank.
Data lain juga menunjukkan bahwa investor saham laki-laki dan perempuan semakin seimbang dari waktu ke waktu, mencerminkan partisipasi yang semakin inklusif.
Kenali instrumen pasar modal yang populer
Pasar modal bukan hanya soal saham. Ini mencakup beberapa jenis instrumen utama:
Saham - Kepemilikan perusahaan. Harga berfluktuasi berdasarkan kinerja usaha dan sentimen pasar.
Reksa Dana - Gabungan investasi yang dikelola profesional, cocok untuk pemula karena resikonya dibagi.
Obligasi - Surat utang yang memberikan bunga tetap, lebih stabil dibanding saham.
SBN (Surat Berharga Negara) - Instrumen pemerintah yang cenderung aman.
Data pertumbuhan investor juga menunjukkan peran reksa dana yang makin kuat, dengan jutaan SID dicatat di instrumen ini.
Kesalahan investasi umum pemula
Lonjakan jumlah investor bagus. tapi banyak pemula yang masih sering melakukan kesalahan dasar:
Tidak punya tujuan investasi yang jelas. Investasi harus punya alasan jangka panjang, bukan cuma ikut tren.
Membeli saham karena “ramalan teman”. Tanpa analisis, ini sering berujung rugi.
Tidak memahami risiko. Saham bisa naik, tapi bisa turun. Harus siap likuiditas turun.
Tidak memiliki strategi diversifikasi. Semua modal di satu saham itu berisiko tinggi.
Semua hal ini sering terjadi karena literasi yang belum merata. Data survei menunjukkan tingkat literasi pasar modal Indonesia masih di bawah 20%.
Cara memulai investasi yang cerdas
Berikut langkah konkret untuk kamu yang baru mau mulai:
Tentukan tujuan investasi - misalnya dana pendidikan, pensiun, atau rumah.
Pahami profil risiko kamu - apakah kamu agresif, moderat, atau konservatif.
Belajar dasar analisis pasar - baca laporan keuangan, pahami tren sektor.
Diversifikasi portofolio - jangan hanya fokus pada satu instrumen.
Gunakan platform resmi - pilih sekuritas yang terdaftar dan diawasi OJK.
Pantau dan revisi strategi secara berkala. Investasi bukan “set and forget”.
Investasi yang cerdas bukan soal cepat kaya. Itu tentang memahami risiko, konsisten, dan sabar.
Kenapa artikel ini penting untuk kamu?
Pertumbuhan jumlah investor hingga lebih dari 20 juta adalah peluang besar, tetapi juga panggilan untuk edukasi finansial yang benar. Banyak orang terjun karena tren, bukan karena paham strategi atau risiko. Itu bisa berbahaya ketika market bergerak turun tajam atau ketika keputusan investasi dibuat tanpa data yang cukup.
Dengan memahami instrumen, risiko, dan strategi sejak awal, kamu bisa memaksimalkan potensi cuan tanpa terbawa emosi pasar.
Ingat ya!
Di tengah euforia jumlah investor yang terus naik, satu hal sering dilupakan. Tidak semua uang seharusnya diinvestasikan. Kamu tetap butuh uang tunai untuk hidup, untuk keadaan darurat, dan untuk menjaga keputusan investasi kamu tetap rasional. Tanpa cash yang aman, setiap gejolak pasar akan terasa seperti ancaman, dan kamu akan terdorong menjual aset di waktu yang salah.
Justru di sinilah tabungan syariah di Aira Mobile punya peran penting. Menyimpan dana likuid di rekening yang aman, mudah diakses, dan terpisah dari dana investasi membuat kamu bisa bertahan dalam situasi apa pun. Kamu bisa membayar kebutuhan, menghadapi kejadian tak terduga, dan tetap membiarkan investasimu bekerja tanpa tekanan.
Investor yang paling bertahan lama bukan yang paling berani, tetapi yang paling siap. Dan kesiapan itu selalu dimulai dari satu hal sederhana. Punya cash yang rapi, aman, dan terkelola. Di situlah Aira Mobile masuk ke hidup finansial kamu, bukan sebagai alat, tapi sebagai fondasi.




